"Kondisi gencatan senjata yang akan diperpanjang masa berlakunya ini sangat kritis," tutur diplomat berumur 71 tahun itu. Mitchell tak berlebihan. Maklumlah, menjelang lawatannya ke Timur Tengah, jet-jet tempur Israel kembali membombardir wilayah perbatasan Gaza dan Mesir. Israel mengklaim serangan itu bertujuan menghancurkan terowongan Hamas.
Sehari sebelumnya, seorang tentara Israel tewas akibat ledakan di dekat Gaza. Jaringan televisi Al-Arabiya menyebutkan insiden itu juga melukai tiga serdadu Yahudi lainnya. Bom meledak setelah menghantam satu patroli militer di dekat perbatasan dengan Jalur Gaza. Sejumlah saksi mata mengatakan bahwa ledakan itu disusul dengan baku tembak.
Adapun pemerintah Israel mengancam akan melindungi diri dari sejumlah serangan yang datang menyusul tewasnya seorang prajurit mereka. "Israel menginginkan perdamaian di wilayah selatan terus berlanjut," ujar juru bicara pemerintah Israel, Mark Regev, kepada kantor berita AFP. "Tapi kemarin sebuah serangan mematikan berupaya merusak perdamaian itu."
Regev mewanti-wanti bahwa Israel tidak segan-segan bertindak guna melakukan perlindungan. "Dalam menghadapi provokasi seperti itu, Israel tentu akan bertindak," ujarnya. Komentar itu disampaikan beberapa jam sebelum Mitchell tiba di Israel, sebagai bagian dari lawatan pertamanya setelah diutus Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama.
Sepekan setelah dilantik, Presiden Obama mengatakan bahwa ia tak mau berharap terlalu tinggi terhadap kemajuan yang dicapai setelah serangan Israel ke Gaza. Namun, Obama optimistis kemajuan masih bisa dicapai. "Inilah saatnya untuk kembali ke meja perundingan," kata Obama kepada Al-Arabiya.
Obama juga berjanji akan lebih aktif dalam menjalankan diplomasi Timur Tengah ketimbang pendahulunya, George Walker Bush. Itu sebabnya, Obama mengutus Mitchell berkunjung ke Israel, Tepi Barat Palestina, Yordania, dan Arab Saudi. "Tujuan Senator Mitchell adalah memperkukuh upaya kita mengupayakan kemajuan di Timur Tengah," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar